Jumat, 19 Desember 2014

Pindah Rumah


Namaku fahrizal dan aku mempuyai sahabat yang sangat dekat denganku, sahabat itu sudah ku anggap sebagai saudara sendiri. Nama sahabatku adalah risky, aku dan risky selalu bersama-sama, hampir setiap waktu ku habiskan berdua dengannya.
Ke esokan harinya, aku bangun dari tempat tidurku untuk memulai hari dengan sahabatku, kami berdua akan berangkat ke sekolah dengan menaiki sebuah mobil angkot yang sangat kecil dan sempit bersama-sama. Setelah sampai di sekolah tiba-tiba si rahmat datang, dengan suara kerasnya dia mengagetkan kami berdua. Dorr…!! rahmat itu adalah salah satu musuh kami di sekolah, ia selalu menjaili aku, kadang aku sampai kesal dijaili oleh dia, tapi untungnya ada sahabatku yang selalu melindungi aku dan dia juga selalu membela aku untuk melawan di rahmat yang bandel itu.
Tringg… Tring…!!! Bel sekolah pun telah berbunyi, aku dan sahabatku risky bergegas untuk pulang ke rumah, setelah sampai di rumah aku pun langsung bergegas langsung berganti pakaian untuk bermain dengan sahabatku risky. Kami berdua selalu bermain petak umpet, dengan canda tawanya kami berdua bermain hingga tak terasa hari pun sudah sore, dan aku pun pulang ke rumah.
Sesampai di rumah ibu ku datang, dan ibu ku bercerita, “rizal…!!” “iya bu” sahut rizal dengan suara pelan, “kita akan pindah rumah”, “kok pindah bu ada apa” sahut rizal dengan muka yang kaget, “kita akan pindah ke kampung untuk menemani nenekmu disana, dan kita akan tinggal selamanya disana dan kamu pun akan pindah sekolah”, “apa bu..!!” sahut suara rizal dengan keras dan ekspresi sedih. “rizal gak mau pindah bu”, “iya ibu tau pasti kamu gak mau ninggalin sahabatmu kan”, “iya bu..!!” jawab rizal dengan wajah sedih, “memang berat meningalkan orang yang kita sayang” sahut ibu.
Hari esok pun telah tiba, dan keluarga rizal pun berkemas barang-barang yang akan dibawanya. Dan rizal pun pergi ke rumah risky untuk mengucapkan selamat tinggal. Rizky pun bertanya, “mau kemana zal kok selamat tinggal”, sahut rizal dengan air mata yang mengalir di pipinya, “aku ingin pindah ke kampung”. Sahut risky dengan wajah yang kaget! “maksudmu pindah ke kampung dan tinggal selamanya disana”, “iyah”, “hati-hati yah zal semoga kamu betah tinggal disana dan jangan pernah lupakan aku yah”, “kita masih bisa saling berhubungan kan..” sahut rizal “iya itu pasti”, “pasti aku akan selalu merindukanmu”, “aku juga” sahut risky. Dan akhirnya pun rizal berangakat menuju kampung halamannya.
Sesampai disana rizal langsung bertemu dengan neneknya untuk melepas rindu yang sangat sekian lama tak berjumpa dengan neneknya. Dan pagi pun tiba, rizal pun segera berangkat bersama ibunya untuk pergi ke sekolah yang baru, sampai di sekolah rizal masih kelihatan malu-malu sekali dengan suasana yang berbeda dari biasanya yang ia alamai setiap pagi. Dan rizal pun pulang ke rumah, sesampai di rumah rizal langsung pergi ke kamar dan mengambil foto rizky, ia pun bercerita ke pada foto yang dipegang oleh rizal sambil berlinang air mata.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar