Jumat, 19 Desember 2014

Cinta Terpendam


Perkenal kan nama ku arifin, aku seorang mahasiswa di perguruan tinggi swasta di kota bandung. Aku adalah lelaki yang jauh dari kata sempurna, waktu masih sma aku tak pernah mengenal apa itu cinta, dikarenakan sekolah aku yang homogen alias isinya cuma cowok semua ada cewek paling juga guru itu juga udah pada tua. Tetapi semuanya berubah ketika aku memasuki bangku kuliah.
Hari pertama kuliah diisi dengan acara yang namanya ospek menyebalkan memang, tapi ya sudah lah aku jalani saja. Hari pertama ospek memang sedikit canggung karena dengan lingkungan baru, orang baru dan gak ada yang kenal satu orang pun. Tetapi ada seseorang yang mampu mengalihkan dunia ku, yang dulunya gelap menjadi terang, yang dulunya tak mengenal cinta sekarang jadi merasakan cinta itu seperti apa. Dia adalah seorang wanita muslimah yang baik cantik dan menutup semua auratnya rapat-rapat, nama nya ridla fauziah ismaha namun teman-temannya biasa panggil dia isma.
Singkat cerita aku kenal dengan nya. Ternya dia juga anak rantau sama seperti aku dan tempat tinggal nya tidak terlalu jauh dengan ku jarak nya sekitar 5 – 6 km dari rumah ku.
Jujur aku tidak berani menyampaikan rasa suka atau tertarik sama dia, namun aku ada cara yang mungkin sedikit aneh untuk bisa dekat dengan dia, yaitu dengan cara berpura-pura mendekati sahabat nya, sebut saja nama sahabat nya bunga, orangnya supel dan lumayan pandai.
Aku selalu curhat sama isma tentang bunga yang sebenernya cuma modus belaka hehe. Ternyata dia selalu kasih saran positif pada ku, singkat cerita bunga (sahabat isma) dia jadian dengan cowok lain.
Aku inget pas terakhir kalinya dia ngasih saran pada ku tentang bunga, “udah lah fin lupain aja dia, mungkin dia bukan yang terbaik buat kamu” begitu ujar dia di telpon. Iyalah dia gak mungkin jadi yang terbaik buat aku, karena aku berharap yang terbaik buat aku itu kamu isma ujarku dalam hati.
Semenjak saat itu aku makin deket sama dia. Sering pulang bareng, kalau main sama temen-temen satu kelas pasti dia gak mau sama cowok lain maunya sama aku doang padahal banyak yang nawarin bareng tapi dia selalu jawab “engga deh makasih aku sama arifin aja”. Bahkan ada temen aku yang nawarin ngaterin dia pulang ke tempat kos dia tolak dan malah dianterin sama aku di depan orang yang nawarin tadi. Wajar banyak temen aku yang cemburu karena dia lebih milih aku hehehe
Namun ketika aku ingin mengungkapkan perasaan ini selalu ada keraguan di hati ini. Apakah aku bakalan di terima?. Aku takut ketika aku mengungkap kan perasaan ini dia malah menjauh dari ku, oleh karena alasan itu lah aku tak pernah mengungkapkan rasa sayang dan cinta ku ini pada nya.

Jatuh Cinta Sendiri


Sudah lama, aku mulai jenuh dengan situasi seperti ini. Keadaan menyebalkan yang tak pernah berubah. Kamu masih dengan dia, masih bahagia. Seseorang yang lain masih mengharapkanmu, menantimu menyudahi bahagia dengan dia lalu mengajakmu berbahagia bersamanya saja, dan aku, masih sama, masih diam mendengarkanmu bercerita tentang bahagiamu bersamanya, masih diam mendengarkan seseorang lain itu berkeluh kesah membicarakan bahagiamu yang di rasa lebih cocok kamu jalani bersamanya. Aku masih sama, masih bingung mau menceritakan urusanku pada siapa, masih kesulitan mengurus perkara jatuh cinta yang sendirian ini.
Dalam diam menanggapi ceritamu, aku sebenarnya jengkel. Kamu bilang dia berubah, kamu bilang dia tak lagi peduli seperti diawal, kamu bilang bla… bla.. bla, semua yang menyakitkan sampai membuatku ikut merasakan sesak juga. Kamu pernah merasakan seperti yang aku rasakan ini? melihat orang yang kamu suka memaksakan suatu kebahagiaan, disakiti, tapi yang kamu suka tetap saja memilih yang menyakitinya itu? Kamu, seharusnya sudahi saja semua yang kamu jalani bersamanya. Lihat, tatapanmu, tatapanmu tak lagi berbinar seperti dulu, seperti saat kamu bercerita tentangnya diawal-awal hubunganmu, dan suaramu, suaramu tak lagi menyenangkan saat didengar, entah apa yang salah, toh suaramu masih sama, atau mungkin nada ceritamu yang membuatnya berbeda? disela ceritamu, kamu sering menarik nafas panjang, berdiam beberapa waktu, lalu mengusap keningmu. Ayolah, aku tidak suka melihatnya.
Dalam diam menanggapi cerita dari seseorang itu, seseorang yang kamu tahu persis, dia juga mengharapkanmu, berlama menyia-nyiakan waktu hanya untuk menunggumu, aku sering merasa kesal. Untuk apa aku mendengarkannya, bersimpati atas perih yang ia rasakan, menasihatinya untuk menyerah saja dan mencari bahagia lain. Untuk apa?
Pernah kamu merasakan yang ini? disaat kamu harus berpura-pura simpati terhadap orang lain, padahal kamu sendiri juga merasakan getir yang sama?
Seseorang itu tidak lebih cantik dari dia, jelas saja kamu tidak berpaling lalu memilihnya. Seseorang itu tidak lebih pintar dari dia, sementara kamu bilang kamu suka dengan gadis yang pintar, bisa diajak berdiskusi ini itu, jadi jelas saja kamu tetap memilihnya. Bodoh sekali seseorang itu, memelihara sebuah hal yang dirasa kesabaran, padahal jelas-jelas itu pelukaan.
Dan aku, biar kuceritakan sendiri apa saja yang aku lalui. Sedikit saja, kamu tak perlu takut akan jenuh mendengarnya. Aku ini sama seperti seseorang itu, sama bodohnya, mengharapkanmu, menunggu kamu beranjak mencari bahagia yang lain. Bedanya, aku tidak seperti orang itu, tidak seberani orang itu mengungkapkan perasaannya padamu. Berarti aku lebih bodoh.
Aku sering membohongi diriku sendiri, membiarkannya menerima kenyataan bahwa melihatmu bahagiapun sudah cukup. Bahwa melihatmu bersama dia, atau bersama seseorang itu pun, aku akan tetap baik-baik saja. Bahwa aku pasti kuat mengurus jatuh cinta sendirian ini. Itu juga bahagia yang aku paksakan.

Liburan ke Bandung


Liburan lalu, saya pergi ke Kota Bandung dengan ayah saya, ibu saya , dan saudara saya . Kota Bandung untuk keluarga saya adalah tempat favorit untuk liburan . Terlepas dari lokasi untuk liburan, di Kota Bandung juga terkenal untuk belanja dan banyak tempat untuk kuliner lezat.
Keluarga saya liburan di Kota Bandung selama tiga hari . Selama liburan kami di Kota Bandung , kami tinggal dengan sepupu saya , di jalan Ciumbuleuit di Kota Bandung . Mereka sangat baik pada keluarga saya . Namanya paman Jajang , paman saya dan bibi namanya Evi , bibi saya , juga tiga anak , Defani , Vidya , dan Zalva .
Pada hari pertama saya dan keluarga saya pergi ke wisata kuliner di jalan Dago . Ada banyak kuliner . Mulai dari kuliner Sunda sampai ke Eropa kuliner . Semua kuliner yang sangat lezat.
Pada hari kedua , saya dan keluarga saya pergi untuk berbelanja . Kota Bandung terkenal dengan tempat belanja . Salah satu yang terkenal untuk tempat-tempat belanja untuk belanja . Saya dan keluarga saya membeli pakaian. Seperti kemeja , celana , jaket , dan beberapa aksesoris .
Pada hari terakhir , saya dan keluarga saya pergi untuk mencari ketenangan di kebun binatang Bandung . Di kebun binatang Bandung , ada banyak jenis hewan . Dari spesies burung , termasuk Merak dapat dilihat di kebun binatang London , selain itu ada hewan Beruang , Naga , Gajah , Harimau , Rusa , Unta , Zebra, dan Primata termasuk Siamang .

Cinta Pertama yang Membuatku Bodoh


Setiap orang menyebutku bodoh ketika mereka melihat bagaimana ku bertahan dengan kisah yang tiada jelasnya. 3 tahun bukanlah penantian yang berarti untuk usiaku yang belia ini, 17 tahun. Tarik ulur hati oleh sebuah pesan singkat di handphone yang kadang muncul kadang tidak, hanya seperti permainan belaka. Dramatikal kisahku yang terasa semakin memburuk dengan kabar yang mengatakan dia telah menyukai wanita lain baru-baru ini. Status sosial media yang selama ini menjadi sumber berita tentangnya, penuh dengan kalimat romantis olehnya. Bukan untukku, meski kuharap begitu, namun untuk wanita lain. Terasa bodoh ketika harus menangis melihat tulisan yang tiada bisa menyakiti itu. Lebih dari silet yang menyayat ternyata, meski hanya untaian kata.
Setiap hari, foto-foto mereka muncul di beranda ku. Seakan ingin berbicara, “ini dia yang kusayang bukan kamu..”. hanya tetesan air mata kepedihan yang menemaniku. Berlebihan memang, tapi aku hanya “korban cinta pertama.” Hai kamu tersangka, kembalikan hatiku! Berapa lama lagi kamu bermain dengan kerapuhannya. Hanya pekikan lirih dari perihnya keadaan yang menyelimuti. Penjarakan setiap gerak raga ini.
Di saat ku berusaha lepaskan borgol ini, aku hampir saja menyentuh pintu keluar menuju cerita baru, tapi aku ditarik lagi oleh sebuah pesan singkat yang sangat berarti untukku, “hy”. Namamu terdaftar di inbox-ku saat kau mengirimkan pesan itu kepadaku. Ada getar yang menggerakan organ dalamku, tepatnya hatiku. Dengan semangat dan tak ingin membuat kau menunggu, aku membalas, “hy juga.. apa kabar?” saat ku hendak mengirimnya, sesaat aku terhenyak oleh foto-foto di facebookmu yang sedang ku buka, kau sedang bersama pria itu. Aku mencoba mengurung niatku, tapi aku gagal oleh hasrat yang ingin kembali membaca pesan balasanmu. Aku mengirimkan pesan itu. Aku terasa begitu bersemangat saat itu. Saat hpku bergetar, aku melihat segera mungkin. Ternyata pesan dari operator. Oke, aku tetap menunggu. Hingga tak sadar dalam penantian itu, aku tertidur. Tak terasa malam membangunkanku, aku kembali melihat handphone, namun inboxku tiada bertambah lagi. Dada begitu menyesak. Menangis pun tak ada air mata yang keluar.
Sampai kapan akbar kamu seperti ini. Aku terus berpikir tentang keadaanku sebelum mengenal dia, putri. Orang yang membuatku tidak mengenal diriku yang dulu. Aku baik-baik saja. Bahkan sangat baik. Namun, entah apa yang ada dalam cinta pertama yang terus membelenggu pikiran dan hatiku yang seolah menjadi buta permanen selama 3 tahun. Cinta pertama yang dulu selalu aku dambakan. Aku bilang hidupku menjadi berwarna, aku bilang aku terlihat istimewa, namun aku lupa, bahwa itu hanya perasaanku saja. Cinta yang kuanggap indah, berwarna, semua hanya semu. Putri itu tidak pernah menanggapi rasa ku. Dia hanya mencoba bersikap wajar meresponiku. Namun, aku selalu berpikir positif dan menganggap dia menyukaiku. Kini aku tersadar. Perasaanku terlalu ikut campur hingga mematikan logikaku. Kini, korban cinta pertama seolah sebutan yang cukup dan tepat bagi hati yang masih berharap meski terus tak tertanggap. Perjalanan masih panjang untukku tetap bertahan. 3 tahun cukup untuk semua kebodohanku. Aku harus melepaskan predikat ini. Bebas dari cinta pertama yang hanya sebelah tangan.

Cinta Pertama


Bermodalkan kulit sawo matang, dan senyum yang mempesona ialah Fahrizal, seorang pria yang ku kagumi sejak kelas 8 smp, memiliki tinggi badan yang ideal bak seorang atlet basket, dan mempunyai kecerdasan yang membuat ia semakin menjadi pria yang di idolakan setiap wanita, ingin sekali rasanya aku berkenalan dengannya, walaupun hanya dikatakan sebagai teman, akan tetapi segelintir hasrat ini ingin melampaui dari itu, aku berserah diri kepada tuhan, biarlah ia yang menentukan takdir hidupku.
Letak ruangan kelasku memang berhadapan dengan lapangan sekolah, jadi tak heran jika dari jendela saja kami dapat melihat aktivitas-aktivitas siswa yang berada di lapangan, kamis merupakan hari yang paling kutunggu, mengapa? Ya karena pada hari ini pria idaman ku memiliki jadwal berolahraga, tak sabar rasanya ingin melihat keahliannya dalam memainkan bola basket, yang terkenal lincah itu, sejenak aku memperhatikan guru yang sedang mengajar di depan kelas, akan tetapi aku lebih sering melihat ke arah jendela yang berarti aku sedang memperhatikan pria itu, sampai-sampai temanku menanyakan siapa yang aku perhatikan di balik jendela itu. “siapa yang sedang kamu lihat Reta?” tanya Dita, “enggaaak ppappa kok Dit”. Jawab ku dengan perasaan gugup, “oh aku tahu, pasti kamu lagi liatin dia yaa?”, “sssiapa bilang aaaku llagi liatin pohon” aku pun semakin tidak dapat mengelak. “ngaku aja deh nggak papa kok” rayu Dita, “hmm iya Dit aku lagi ngeliatin dia, aku pengen banget kenal sama dia”, “oh Fahrizal, kamu mau kenalan? Sini nanti aku bantu” sahut Dita, “nggak usah Dit, aku malu”. “alah nggak papa lagi, kita kan Cuma mau kenalan”, “iya deh terserah kamu, tapi janji ya cuma kenalan aja”, “siap mbak” kata Dita.
Tak lama bel istirahat pun berbunyi, tanda pelajaran ke 3 dan ke 4 usai, seperti biasa aku bersama Dita pergi ke kantin untuk mengisi perut yang keroncongan, tak sengaja aku menabrak sisi sebelah kanan tangannya yang sedang memegang air minum, dan air minum itu mengenai wajahku, dengan segera ia membersihkan wajahku yang basah dengan sebuah sapu tangan yang ia ambil dari saku pakaian, dan membersihkan secara perlahan, “maaf, ini semua salah ku” aku pun meminta maaf, “nggak papa kok, ini juga salahku yang jalannya nggak liat ke depan, oh iya kalau boleh tahu, nama kamu siapa?” ia pun mengajakk berkenalan, sampai akhirnya bel pun berbunyi menandakan waktu istirahat telah usai.
Waktu pun menunjukkan pukul 12.30 Wib, yang artinya waktu pulang sekolah pun tiba, Dita yang awalnya berjalan denganku kini telah di jemput oleh sang kekasih, akhirnya tinggal lah aku sendiri menapaki jalan yang panjang dengan ditemani teriknya cuaca di siang hari, dari belakang tubuhku ini terdengar suara knalpot motor yang secara perlahan membuntuti ku, lantas aku memutar arah tubuh ku “loh, kok kamu ada disini?”, ia pun menjawab “aku nggak tega sama kamu, jalan kaki, di hari yang terik seperti ini, sini aku antar”. Ia pun segera menarik tanganku sebagai rasa sangat perduli dengan kondisiku, dan akhirnya aku diantar pulang hingga sampai ke rumah.
Seminggu berlalu hubungan kami pun semakin dekat, melalui via sms dan facebook kami lebih mengenal satu sama lain. Hingga tiba waktunya ia menyatakan perasaanya kepadaku melalui setangkai mawar yang ia berikan ketika pulang sekolah, “Reta, mau kah kamu menjadi pacar sekaligus penyemangatku?”, aku pun tak dapat berkata dan hanya dapat menganggukkan kepala, dan dari situlah dimulai cerita cinta pertamaku.

Pindah Rumah


Namaku fahrizal dan aku mempuyai sahabat yang sangat dekat denganku, sahabat itu sudah ku anggap sebagai saudara sendiri. Nama sahabatku adalah risky, aku dan risky selalu bersama-sama, hampir setiap waktu ku habiskan berdua dengannya.
Ke esokan harinya, aku bangun dari tempat tidurku untuk memulai hari dengan sahabatku, kami berdua akan berangkat ke sekolah dengan menaiki sebuah mobil angkot yang sangat kecil dan sempit bersama-sama. Setelah sampai di sekolah tiba-tiba si rahmat datang, dengan suara kerasnya dia mengagetkan kami berdua. Dorr…!! rahmat itu adalah salah satu musuh kami di sekolah, ia selalu menjaili aku, kadang aku sampai kesal dijaili oleh dia, tapi untungnya ada sahabatku yang selalu melindungi aku dan dia juga selalu membela aku untuk melawan di rahmat yang bandel itu.
Tringg… Tring…!!! Bel sekolah pun telah berbunyi, aku dan sahabatku risky bergegas untuk pulang ke rumah, setelah sampai di rumah aku pun langsung bergegas langsung berganti pakaian untuk bermain dengan sahabatku risky. Kami berdua selalu bermain petak umpet, dengan canda tawanya kami berdua bermain hingga tak terasa hari pun sudah sore, dan aku pun pulang ke rumah.
Sesampai di rumah ibu ku datang, dan ibu ku bercerita, “rizal…!!” “iya bu” sahut rizal dengan suara pelan, “kita akan pindah rumah”, “kok pindah bu ada apa” sahut rizal dengan muka yang kaget, “kita akan pindah ke kampung untuk menemani nenekmu disana, dan kita akan tinggal selamanya disana dan kamu pun akan pindah sekolah”, “apa bu..!!” sahut suara rizal dengan keras dan ekspresi sedih. “rizal gak mau pindah bu”, “iya ibu tau pasti kamu gak mau ninggalin sahabatmu kan”, “iya bu..!!” jawab rizal dengan wajah sedih, “memang berat meningalkan orang yang kita sayang” sahut ibu.
Hari esok pun telah tiba, dan keluarga rizal pun berkemas barang-barang yang akan dibawanya. Dan rizal pun pergi ke rumah risky untuk mengucapkan selamat tinggal. Rizky pun bertanya, “mau kemana zal kok selamat tinggal”, sahut rizal dengan air mata yang mengalir di pipinya, “aku ingin pindah ke kampung”. Sahut risky dengan wajah yang kaget! “maksudmu pindah ke kampung dan tinggal selamanya disana”, “iyah”, “hati-hati yah zal semoga kamu betah tinggal disana dan jangan pernah lupakan aku yah”, “kita masih bisa saling berhubungan kan..” sahut rizal “iya itu pasti”, “pasti aku akan selalu merindukanmu”, “aku juga” sahut risky. Dan akhirnya pun rizal berangakat menuju kampung halamannya.
Sesampai disana rizal langsung bertemu dengan neneknya untuk melepas rindu yang sangat sekian lama tak berjumpa dengan neneknya. Dan pagi pun tiba, rizal pun segera berangkat bersama ibunya untuk pergi ke sekolah yang baru, sampai di sekolah rizal masih kelihatan malu-malu sekali dengan suasana yang berbeda dari biasanya yang ia alamai setiap pagi. Dan rizal pun pulang ke rumah, sesampai di rumah rizal langsung pergi ke kamar dan mengambil foto rizky, ia pun bercerita ke pada foto yang dipegang oleh rizal sambil berlinang air mata.