Sudah lama, aku mulai
jenuh dengan situasi seperti ini. Keadaan menyebalkan yang tak pernah berubah.
Kamu masih dengan dia, masih bahagia. Seseorang yang lain masih mengharapkanmu,
menantimu menyudahi bahagia dengan dia lalu mengajakmu berbahagia bersamanya
saja, dan aku, masih sama, masih diam mendengarkanmu bercerita tentang
bahagiamu bersamanya, masih diam mendengarkan seseorang lain itu berkeluh kesah
membicarakan bahagiamu yang di rasa lebih cocok kamu jalani bersamanya. Aku
masih sama, masih bingung mau menceritakan urusanku pada siapa, masih kesulitan
mengurus perkara jatuh cinta yang sendirian ini.
Dalam diam menanggapi
ceritamu, aku sebenarnya jengkel. Kamu bilang dia berubah, kamu bilang dia tak
lagi peduli seperti diawal, kamu bilang bla… bla.. bla, semua yang menyakitkan
sampai membuatku ikut merasakan sesak juga. Kamu pernah merasakan seperti yang
aku rasakan ini? melihat orang yang kamu suka memaksakan suatu kebahagiaan,
disakiti, tapi yang kamu suka tetap saja memilih yang menyakitinya itu? Kamu,
seharusnya sudahi saja semua yang kamu jalani bersamanya. Lihat, tatapanmu,
tatapanmu tak lagi berbinar seperti dulu, seperti saat kamu bercerita
tentangnya diawal-awal hubunganmu, dan suaramu, suaramu tak lagi menyenangkan
saat didengar, entah apa yang salah, toh suaramu masih sama, atau mungkin nada
ceritamu yang membuatnya berbeda? disela ceritamu, kamu sering menarik nafas
panjang, berdiam beberapa waktu, lalu mengusap keningmu. Ayolah, aku tidak suka
melihatnya.
Dalam diam menanggapi
cerita dari seseorang itu, seseorang yang kamu tahu persis, dia juga
mengharapkanmu, berlama menyia-nyiakan waktu hanya untuk menunggumu, aku sering
merasa kesal. Untuk apa aku mendengarkannya, bersimpati atas perih yang ia
rasakan, menasihatinya untuk menyerah saja dan mencari bahagia lain. Untuk apa?
Pernah kamu merasakan
yang ini? disaat kamu harus berpura-pura simpati terhadap orang lain, padahal
kamu sendiri juga merasakan getir yang sama?
Seseorang itu tidak
lebih cantik dari dia, jelas saja kamu tidak berpaling lalu memilihnya.
Seseorang itu tidak lebih pintar dari dia, sementara kamu bilang kamu suka
dengan gadis yang pintar, bisa diajak berdiskusi ini itu, jadi jelas saja kamu
tetap memilihnya. Bodoh sekali seseorang itu, memelihara sebuah hal yang dirasa
kesabaran, padahal jelas-jelas itu pelukaan.
Dan aku, biar
kuceritakan sendiri apa saja yang aku lalui. Sedikit saja, kamu tak perlu takut
akan jenuh mendengarnya. Aku ini sama seperti seseorang itu, sama bodohnya,
mengharapkanmu, menunggu kamu beranjak mencari bahagia yang lain. Bedanya, aku
tidak seperti orang itu, tidak seberani orang itu mengungkapkan perasaannya
padamu. Berarti aku lebih bodoh.
Aku sering membohongi
diriku sendiri, membiarkannya menerima kenyataan bahwa melihatmu bahagiapun
sudah cukup. Bahwa melihatmu bersama dia, atau bersama seseorang itu pun, aku
akan tetap baik-baik saja. Bahwa aku pasti kuat mengurus jatuh cinta sendirian
ini. Itu juga bahagia yang aku paksakan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar